munsir CUAP-CUAP

Jumat, 14 Oktober 2011

STRUKTUR PENELITIAN ILMIAH



A. Catatan Awal
            Pengetahuan yang benar merupakan kunci pencapaian kebenaran. Dengannya, kebahagiaan akan diraih oleh manusia selaku mahluk paripurna di persada alam ini. Dalam hal ini, Plato menegaskan bahwa pencapaian kebahagiaan tertinggi (eudaemonia) dilakukan melalui budi yang dilatari oleh pengetahuan yang benar.[1]
            Selanjutnya, untuk merealisasikan maksud tersebut, sifat ilmiah merupakan prasyarat yang tak mungkin dihindari. Dengan demikian, terdapat beberapa tahapan yang mesti ditempuh untuk maksud tersebut. Pengetahuan mesti melalui proses penelitian valid yang notabene bermuara pada tercapainya pengetahuan yang 'mendekati' kebenaran tersebut.
            Dalam makalah sederhana ini, penulis akan memaparkan tentang struktur penelitian ilmiah yang merupakan salah satu elemen esensial pencapaian hal di atas. Adapun pembahasan dalam makalah ini terbatas pada "Apa dan bagaimana struktur penelitian ilmiah itu?"     
           
B. Penelitian Ilmiah dalam Perspektif
            Penelitian ilmiah dalam term Inggrisnya disebut scientific research. Kata research diartikan sebagai "Studi yang serius dan terperinci tentang sebuah subjek yang bertujuan untuk mempelajari fakta-fakta baru, hukum-hukum ilmiah, dan menguji sebuah pendapat, dan sebagainya". (Serious and detailed study of subject, that is aimed at learning new facts, scientific laws, testing ideas, etc.).[2] Adapun kata ilmiah (scientific) diartikan sebagai pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris.[3]           Penggabungan kedua term di atas (scientific research) oleh Kerlinger dimaksudkan sebagai "penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris, dan penyelidikan kritis dari proporsi-proporsi hipotesis tentang hubungan yang diperkirakan antara gejala alam".[4] Dari definisi ini, dapat dikatakan bahwa penelitian baru disebut ilmiah jika mengikuti langkah-langkah atau tahapan yang dimulai dengan mengidentifikasi masalah, menghubungkan masalah tersebut dengan teori-teori yang ada, mengumpulkan data, menganalisis dan menginterpretasi data; menarik kesimpulan, dan menggabungkan kesimpulan-kesimpulan tersebut ke dalam jajaran khazanah pengetahuan.
            Sebagaimana disebutkan di atas, ada beberapa tahapan yang mesti ditempuh dalam melakukan sebuah penelitian ilmiah yang terakumulasi dalam sebuah struktur (structure), yaitu cara bagaimana sesuatu disusun.[5] Sedangkan dalam pengertian secara terminologi diartikan sebagai sebuah susunan atau kesatuan; cara dimana bagian-bagian dibentuk ke dalam suatu keseluruhan (an arrangement or organization; the way in which parts are formed into a whole).[6]
            Selanjutnya, struktur penelitian ilmiah terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
  1. Permasalahan Penelitian (Research Problem)
      Langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah menentukan permasalahan penelitian itu sendiri. Pasalnya, permasalahan penelitian merupakan titik tolak (starting point) dan menjadi alasan satu-satunya mengapa suatu penelitian perlu dilakukan.[7]
      Pada tahap ini, seorang peneliti harus mulai memikirkan beberapa hal penting, yaitu:
a)      Mengapa penelitian ini perlu dilakukan?
b)      Masalah apa saja yang perlu diteliti?
c)      Bagaimana memformulasikan permasalahan ini dengan bentuk yang mudah dipahami?
d)     Apa target yang ingin dicapai dari penelitian tersebut?  (Tujuan dan kegunaan)

  1. Kajian Kepustakaan (Literature Review)
      Langkah berikutnya adalah menguji secara mendalam setiap aspek (atau secara teknis: variabel) yang tercakup dalam penelitiannya. Dalam hal ini, pencarian definisi tidaklah cukup, kecuali setelah dibubuhi penjelasan tentang pola hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Bangunan yang menjelaskan definisi-definisi variabel-variabel dan keterkaitan antara satu variabel dengan yang lainnya inilah yang disebut sebagai Kerangka Teoritik atau Kerangka Berpikir Penelitian.[8] Karena pada tahap ini, seorang peneliti harus mengkaji begitu banyak dokumen dan kepustakaan, tahapan kedua ini disebut juga sebagai Kajian Kepustakaan (Literature Review).
      Pada tahap kedua ini, seorang peneliti mulai merenungkan dan mengkaji secara mendalam apa sebenarnya esensi penelitiannya itu. Ada beberapa pertanyaan penting yang akan mengemuka, yaitu:
a)      Apa sebenarnya variabel-variabel yang sedang diteliti, baik makna empiris-praktis, maupun makna konseptual-teoritisnya?
b)      Sejauh mana relevansi definisi yang diajukan dengan penelitian yang sedang dilakukan?
c)      Apakah masalah tersebut pernah dilakukan oleh orang lain? Dan bagaimana hasilnya?
d)     Bagaimana format penelitian yang akan dibuat?

3. Metodologi Penelitian (Methodological Research)
      Tujuan metodologi penelitian ini adalah memberikan deskripsi yang jelas dan lengkap tentang langkah spesifik yang harus ditempuh. Hal tersebut juga dimaksudkan agar pembaca hasil penelitian tersebut kelak mendapatkan peluang untuk merefleksikannya.[9] Saking urgennya metodologi penelitian ini, Prasetya Irawan menegaskan bahwa dalam penelitian ilmiah, kebenaran yang dikemukakan oleh peneliti adalah sama pentingnya dengan metodologi penelitian yang dipakai untuk menemukan kebenaran tersebut.[10]
      Pada tahapan ini, ada beberapa pertanyaan yang patut untuk direnungkan secara detil oleh si peneliti, antara lain:
a)      Pendekatan apa yang akan digunakan
b)      Metode apa yang paling sesuai untuk penelitian tersebut?
c)      Dari mana saja data yang diperlukan dapat diperoleh?
d)     Instrumen (alat) apakah yang paling efektif dan efisien untuk mengumpulkan data yang diperlukan?
e)      Bagaimana caranya agar instrumen yang dipakai benar-benar memiliki kualitas validitas ( reliabilitas dan obyektivitas) yang tinggi?
f)       Bagaimana sebaiknya data yang terkumpul nanti diolah dan dianalisis?
g)      Alat analisis apa yang paling sesuai dengan sifat data yang diperoleh?
h)      Bagaimana dan dengan standar apa kesimpulan penelitian akan ditarik?

4. Analisis Data
      Tahap analisis data merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses penelitian. Pada bagian ini, peneliti menggunakan segenap kemampuan teori dan pengetahuan-pengetahuan lain yang dimilikinya guna membuktikan hipotesis dari fenomena yang diteliti.[11]
      Ada beberapa langkah pokok dalam tahapan analisis data ini yang perlu ditempuh. Neil B. Holbert dan Mark W. Speece –sebagaimana kutip Teguh- memberikan deskripsi enam langkah pokok yang terdiri dari:
a)      Jenis data apakah yang tersedia?
b)      Bagaimana mendiskusikan hal yang dianggap perlu agar dapat menceritakan fakta di balik data yang ada?
c)      Teknik-teknik apa saja yang terbaik untuk mendapatkan keterangan terhadap bagian khusus yang didiskusikan?
d)     Setelah menggunakan teknik-teknik yang ada dan menjelaskan hasil yang diperoleh, dimanakah data tersebut akan ditempatkan?
e)      Bagaimana memecahkan hasil penelitian dan jenis pola yang terlihat serta jenis keputusan statistik yang ditempuh?
f)       Langkah apa yang mesti ditempuh untuk menjelaskan apa yang terjadi terhadap seseorang yang tidak menyukai angka-angka dan belum pernah mendengar ilmu statistik?[12]

5. Hasil Penelitian
      Langkah selanjutnya adalah melaporkan apa yang ditemukan berdasarkan penelitian. Tujuan utama dari langkah ini adalah membandingkan kesimpulan yang ditarik dari data yang telah dikumpulkan dengan hipotesis yang diajukan.[13]
      Secara sistematik dan terarah, maka data yang telah dikumpulkan tersebut diolah, dideskripsikan, dibandingkan, dan dievaluasi yang diarahkan kepada sebuah penarikan kesimpulan apakah data tersebut mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.
      Sebagai catatan, sebuah hasil penelitian yang baik tidak berhenti pada kesimpulan apakah sebuah hipotesis diterima atau ditolak melainkan dilengkapi dengan evaluasi mengenai kesimpulan tersebut.
      Selanjutnya, ada beberapa unsur yang berkaitan dengan pembahasan hasil penelitian ini, di antaranya:
a)      Tinjauan tentang hasil-hasil penelitian yang penting.
b)      Pertimbangan mengenai hasil-hasil penelitian ditinjau dari studi-studi penelitian yang ada.
c)      Implikasi-implikasi mengenai studi tentang teori baru-baru ini (kecuali dalam studi-studi terapan yang murni).
d)     Pengamatan yang cermat tentang hasil-hasil penelitian yang tidak berhasil mendukung atau hanya sebagai mendukung hipotesis-hipotesis yang ada.
e)      Keterbatasan-keterbatasan penelitian yang mungkin mempengaruhi validitas atau penggeneralisasian hasil-hasil penelitian.
f)       Saran-saran untuk penelitian lebih lanjut.
g)      Implikasi-implikasi penelitian bagi bidang profesional atau bidang-bidang terapan (boleh ada, boleh tidak).[14]  (bagi ilmu-ilmu sosial inplikasi sangat penting).

6. Kesimpulan Penelitian
      Kesimpulan (conclusion) adalah akhir suatu penelitian. Kesimpulan bukanlah rangkuman (summary).[15] Dalam kesimpulan, "judgement" peneliti menempati titik sentral yang amat penting. Pertimbangan ini bukan sembarang pertimbangan, tetapi pertimbangan yang berdasarkan pada asumsi teoritik yang kuat, data empirik yang valid, dan kemampuan analisis yang jujur dan tajam.[16] Dalam artikulasi lain, kesimpulan  merupakan suatu pernyataan umum dan logis yang ditarik dari beberapa kasus, dan menunjukkan pola yang menggambarkan ciri-ciri kasus-kasus tersebut.[17] Kesimpulan juga dapat ditarik dari dengan cara sebaliknya, yaitu suatu pernyataan umum dan logis yang telah teruji kebenaran atau ketidakbenarannya melalui bukti-bukti.  
      Lebih jelasnya, kesimpulan penelitian merupakan sintesis dari keseluruhan aspek penelitian yang terdiri dari masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi penelitian, dan penemuan penelitian. Sintesis ini membuahkan kesimpulan yang ditopang oleh suatu kajian yang bersifat terpadu dengan meletakkan berbagai aspek penelitian dalam perspektif yang menyeluruh.
      Dalam mengkaji kesimpulan penelitian ini, disebabkan sifatnya yang terpadu dan menyeluruh, maka –sebagaimana kutip Jujun- "Seorang peneliti meninggalkan peranannya sebagai ilmuan dan beralih menjadi seorang filsuf".[18] Maksudnya, si peneliti harus mampu menarik kesimpulan yang utuh dari data yang bersifat terpisah dengan tidak meninggalkan sifat keilmuan. Persyaratan ini patut diingat karena sering ditemukan bahwa seorang peneliti menarik kesimpulan yang berada di luar batas kewenangan lingkup penelitian serta kesimpulan analisis data yang dikumpulkan.  
      Pada tahap akhir ini, seorang peneliti mengajukan beberapa pertanyaan penting, yaitu:
a)      Apa kesimpulan penelitian tersebut?
b)      Dengan standar dan asumsi apa kesimpulan tersebut ditarik?
c)      Adakah persamaan atau perbedaan antara kesimpulan dalam penelitian tersebut dengan penelitian lain yang sejenis?
d)     Apa implikasi dari kesimpulan tersebut, baik bagi dunia praktis maupun bagi dunia teoritis?

C. Catatan Akhir
            Berdasarkan pemaparan makalah ini, penulis berkesimpulan bahwa struktur penelitian ilmiah merupakan hal yang mesti ditempuh untuk menghasilkan pengetahuan yang ilmiah. Olehnya itu, seorang peneliti mesti mengenal dan mapan dalam memahami prasyarat penelitian yang ada sebelum melakukan kegiatan penelitian ilmiah.


Bibliografi

Hartono, Bagaimana Menulis Tesis?, Malang: UMM Press, 2003, Cet. III

Hatta, Mohammad, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI-Press, 1986, Cet. III

Irawan, Prasetya, Logika dan Prosedur Penelitian, Jakarta: STIA LAN Press, 2000

Longman, Dictionary of Contemporary English, London: Longman Group UK, 1998, Cet. VIII

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984

Sevilla, Consuelo G., (dkk), Pengantar Metode Penelitian, Jakarta: UI Press, 1993, Cet. I

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu, Jakarta: CV. Muliasari, 2000, Cet. XIII

Teguh, Muhammad, Metodologi Penelitian Ekonomi; Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001


* Makalah dipresentasikan pada Seminar Mata Kuliah Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin, 29 November 2004.
[1] Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, (Jakarta: UI-Press, 1986), Cet. III, h. 132.
[2] Longman, Dictionary of Contemporary English, (London: Longman Group UK, 1998), Cet. VIII, h. 885.
[3] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta: CV. Muliasari, 2000), Cet. XIII, h. 131.
[4] Consuelo G. Sevilla (dkk), Pengantar Metode Penelitian, (Jakarta: UI Press, 1993), Cet. I, h. 2.
[5] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), Cet. VII, h. 965.
[6] Longman, Op. cit., h. 1050.
[7] Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian, (Jakarta: STIA LAN Press, 2000), Cet. II, h. 12.
[8] Pada tahapan kedua ini, terdapat perbedaan term sebagaimana yang disebutkan di atas. Term Kerangka Teoritik digunakan oleh Jujun S. Suriasumantri. Lihat. Suriasumantri, Op. cit., h. 316.
[9] Hartono, Bagaimana Menulis Tesis? (Malang: UMM Press, 2003), Cet. III, h. 63.
[10] Irawan, Op. cit., h. 55.
[11] Muhammad Teguh, Metodologi Penelitian Ekonomi; Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), Cet. II, h. 187.
[12] Ibid., h. 187-188.
[13] Suriasumantri, Op. cit., h. 333.
[14] Hartono, Op. cit., h. 121.
[15] Rangkuman merupakan ringkasan atau ikhtisar dari apa yang telah diuraikan. Lihat: Poerwadarminta, Op. cit., h. 799.
[16] Irawan, Op. cit., h. 15.
[17] Ibid., h. 106.
[18] Suriasumantri, Op. cit., h. 341.

Kamis, 13 Oktober 2011

ikAN unik


Lungfish Membuka Wawasan Tentang Evolusi Kehidupan Darat: ‘Manusia Hanyalah Modifikasi Ikan’
Suka dengan artikel ini?
http://www.faktailmiah.com/wp-content/themes/faktailmiah/timthumb.php?w=150&src=http%3A%2F%2Fwww.faktailmiah.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2011%2F10%2FLungfish-Australia.jpgRabu, 5 Oktober 2011 - "Manusia hanyalah modifikasi ikan. Genom ikan tidak jauh berbeda dengan kita sendiri. Kami telah menunjukkan bahwa mekanisme pembentukan otot panggul pada ikan bertulang adalah transisi antara hiu dan tetrapod leluhur kita."

Sebuah penelitian mengenai pengembangan otot beberapa ikan yang berbeda telah memberi wawasan tentang lompatan genetik yang mengatur adegan untuk evolusi kaki belakang pada hewan darat. Inovasi ini memunculkan tetrapoda – makhluk berkaki empat, nenek moyang kita – yang membuat langkah-langkah kecil pertamanya di darat sekitar 400 juta tahun yang lalu.
Tim ilmuwan Australia yang dipimpin Profesor Peter Currie, dari Regenerative Medicine Institute Australia di Monash University, dan Dr. Nicolas Cole, dari University of Sydney, melaporkan hasil studi mereka dalam jurnal PLoS Biology, 4 Oktober.
Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa spesies lungfish purba merupakan nenek moyang dari tetrapoda. Ikan ini mampu bertahan di darat, menghirup udara dan menggunakan sirip panggul untuk mendorong diri mereka sendiri. Australia adalah rumah bagi tiga spesies lungfish (ikan berparu-paru) yang tersisa – dua spesies laut dan satu yang mendiami ceruk Sungai Maria Queensland.
Bagaimanapun juga, terdapat kesenjangan besar dalam pengetahuan kita. Kesimpulan sebelumnya telah diusulkan berdasarkan dari kerangka-kerangka fosil, namun otot-otot penting untuk pergerakan tidak dapat terawetkan dalam catatan fosil.
http://www.faktailmiah.com/wp-content/uploads/2011/10/Paddlefish-278x300.jpg
Pembentukan otot sirip dada pada paddlefish (Polyodon spathula) penggunaan modus sepenuhnya berasal dari pembentukan otot apendikular dan tidak terkait dengan ekstensi epitel. (Kredit: Cole dll., PLoS Biology, DOI: 10.1371/journal.pbio.1001168)
Tim riset menggunakan ikan yang saat ini masih hidup untuk melacak evolusi otot-otot panggul sirip agar bisa mengetahui bagaimana beban kaki belakang tetrapoda berevolusi. Mereka membandingkan embrio dari keturunan spesies yang mewakili titik balik penting dalam evolusi vertebrata untuk melihat apakah terdapat perbedaan dalam pembentukan otot panggul sirip. Mereka mempelajari ikan “primitif” bertulang rawan – hiu bambu Australia dan sepupunya, hiu gajah – beserta tiga ikan bertulang – lungfish Australia, ikan zebra dan paddlefish Amerika. Ikan bertulang, khususnya lungfish, merupakan relasi terdekat nenek moyang terbaru tetrapoda.
“Kami memeriksa cara spesies ikan yang berbeda menghasilkan otot-otot panggul sirip mereka, yang merupakan pelopor evolusi kaki belakang,” kata Profesor Currie, seorang ahli biologi pengembangan. Currie bersama timnya merekayasa genetika ikan untuk melacak migrasi sel-sel otot prekursor dalam tahap awal perkembangan tubuh hewan mengambil bentuk. Sel-sel ikan yang direkayasa ini dibuat sedemikian rupa agar memancarkan cahaya merah atau hijau, memungkinkan tim riset melacak perkembangan kelompok-kelompok otot tertentu. Mereka menemukan bahwa ikan bertulang memiliki mekanisme pembentukan otot panggul sirip yang berbeda dari ikan bertulang rawan, suatu mekanisme yang merupakan batu loncatan bagi evolusi fisiologi tetrapoda.
“Manusia hanyalah modifikasi ikan,” kata Profesor Currie. “Genom ikan tidak jauh berbeda dengan kita sendiri. Kami telah menunjukkan bahwa mekanisme pembentukan otot panggul pada ikan bertulang adalah transisi antara hiu dan tetrapod leluhur kita.”

Jumat, 07 Oktober 2011

pengertian karya tulis ilmiah dan jenis-jenisnyaPengertian karya tulis ilmiah Karya tulis ilmiah adalah : karya tulis yang memiliki karakteristik keilmuan dan memenuhi syarat keilmuan, yaitu: 1. Isi kajian berada pada lingkup pengetahuan ilmiah. 2. Menggunakan metode berpikir ilmiah. 3. Sosok tulisan keilmuan Jenis-jenis kaarya tulis ilmiah A. Buku Pelajaran Dikatakan sebagai karya tulis ilmiah di bidang pendidikan karena memiliki kebenaran ilmiah dan disusun dengan landasan teori tertentu. A. Makalah Makalah adalah sebuah karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu yang mencakup dalam ruang lingkup permasalahan. Ciri-ciri makalah 1. Merupakan hasil kajian literatur atau hasil laporan pelaksanaan kegiatan lapangan mengenai suatu permasalahan. 2. Mendemonstrasikan pemahaman teoritik dan kemampuan menerapkan prosedur, prinsip dan teori yang berhubungan dengan permasalahan 3. Menunjukkan kemampuan pemahaman isi dan berbagai sumber yang digunakan. 4. Mendemonstrasikan kemampuan menyusun berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintesis yang utuh. Makalah yang sering digunakan dalam karya tulis ilmiah 1. Common paper, makalah yang dibuat secara deskriptif dan dengan mengemukakan berbagai aliran dan pendapat serta diperlukan argumentasi untuk mempertahankan suatu aliran atau pendapat tersebut. 2. Position paper, makalah yang dibuat untuk menunjukkan penguasaan pengetahuan serta di pihak mana penulis berdiri dan diperlukan sintesis juga evaluasi dalam penyusunannya. A. Modul Adalah materi pelajaran yang disusun sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat menyerap sendiri materi tersebut. A. Diktat Pelajaran Adalah catatan tertulis suatu bidang studi yang disiapkan oleh guru untuk mempermudah pengayaan materi pelajaran atau bidang studi yang dibahas dalam proses pembelajaran. A. Terjemahan Adalah karya tulis hasil penerjemahan dari buku atau karya tulis bahasa asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. Syarat seorang penerjemah, yaitu: 1. Menguasai materi yang akan diterjemahkan. 2. Menguasai bahasa asing. 3. Menguasai bahasa Indonesia yang baik. 4. Menguasai teknik menterjemahkan. 5. Memahami latar belakang dari budaya bahasa asing tersebut. Laporan Hasil Penelitian Merupakan sajian tertulis dari hasil kegiatan penelitian yang telah dilakukan atau bisa dikatakan sebagai pertanggungjawaban dari kegiatan penelitian. Jika disusun dalam kaitannya dengan persyaratan akademik, maka bentuk laporannya dapat berupa skripsi, tesis atau disertasi. Artikel Ilmiah Artikel ilmiah berbeda dengan laporan hasil penelitian yang baku. Perbedaannya terdapat pada: 1. Bahan yang ditulis dalam artikel ilmiah lebih bersifat singkat padat dan enak dibaca. 2. Sistematika diawali dengan kajian pustaka yang merupakan pendukung atau pembahasan rasional pentingnya masalah yang diteliti. 3. Prosedur penulisan artikel dapat ditulis sebelum laporan penelitian diselesaikan Macam-macam artikrl ilmiah 1. Artikel Ilmiah Hasil Penelitian adalah tulisan ilmiah yang didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan. Artikel ini disusun sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan semua aspek laporan hasil penelitian, tetapi dalam format yang lebih ringkas. 1. Artikel Ilmiah Non Penelitian adalah artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan, hasil penelitian terdahulu, disamping teori yang dapat digali dari buku-buku teks. Prosedur teknin penulisan artikel ilmiah 1. Pengembangan gagasan. 2. Perencanaan penulisan naskah. 3. Pengembangan paragraf. 4. Penulisan draf. 5. Finalisasi. Komponen-komponen artikel iliah 1. Judul Judul hasil pemikiran hendaknya mencerminkan masalah yang dibahas. Pemilihan kata-kata yang mengandung unsur-unsur utama masalah dan judul harus memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi pembaca. 1. Nama Penulis Nama penulis artikel hendaknya tanpa disertai gelar akademik atau profesional guna menghindari bias seniorita dan wibawa serta inferioritas penulis. 1. Abstrak dan kata kunci Berisi ringkasan dari isi artikel yang dituangkan secara padat, bukan pengantar atau pengantar penulis. 1. Pendahuluan Menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan hendaknya berisi paparan tentang permasalahan penelitian, wawasan dan rencana penulis dalam rangka pemecahan masalahnya. 1. Bagian inti Lazimnya bagian inti berisi kupasan, analisis argumentasi, komparasi, keputusan dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan. 1. Metode Menguraikan bagaimana penelitian dilakukan seperti rancangan atau desain penelitian, sasaran atau target penelitian, teknik pengumpulan data, pengembangan instrumen dan teknik analisis data. 1. Hasil penelitian Hasil penelitian hendaknya disajikan secara padat, dan komunikatif. Perhitungan statistik tidak perlu disajikan dalam artikel. 1. Pembahasan Dalam pembahasan, penulis menyajikan hasil interpretasi temuannya dan mengaitkannya dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, dan hasil penelitian terdahulu. Sehingga diharapkan lahirnya teori-teori baru atau modifikasi teori yang telah ada. 1. Penutup, kesimpulan dan saran Merupakan bagian akhir yang pada dasarnya mengakhiri diskusi dengan sesuatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian. 1. Daftar rujukan Semua rujukan yang terdapat dalam tulisan hendaknya dimasukkan ke dalam daftar rujukan. Artikel ilmiah pada sebuah jurnal 1. Harus memahami aturan jurnal (gaya selingkung) yang akan dijadikan tujuan penulisan. Karena tiap-tiap jurnal memiliki gaya selingkung yang berbeda. 2. Harus memahami prosedur pemuatan artikel ilmiah oleh penerbit jurnal. 3. Prosedur pemuatan artikel itu diantaranya: 1) Penulis menyerahkan naskahnya kepada pengelola jurnal atau Ketua Dewan Editor. 2) Ketua Dewan Editor meminta bantuan beberapa penyunting ahli untuk menilai naskah tersebut dan menetapkan layak tidaknya naskah tersebut dimuat. 3) Penyunting ahli berperan sebagai wasit, yang menentukan layak atau tidaknya naskah tersebut dimuat di jurnal. Kemungkinan hasil evaluasi: (1) layak dimuat tanpa revisi, (2) dapat dimuat dengan revisi, (3) tidak layak dimuat. 4) Jika hasilnya perlu direvisi, maka penulis diminta merevisi untuk nanti dinilai kembali dan seterusnya sampai naskah tersebut layak untuk dimuat. Fungsi karya ilmiah bagi karier guru Fungsi karya tulis ilmiah bagi karir guru adalah mereka yang berkehendak memperdalam pengetahuan dan kemampuan dalam mengembangkan profesi dan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan. Selain itu karya tulis ilmiah dapat dijadikan sebagai sarana untuk kenaikan pangkat atau jabatan yang lebih tinggi. Kaitan pengembangan profesi guru dengan karya tulis ilmiah Penulisan karya tulis ilmiah dapat dijadikan sarana untuk pengembangan profesi guru. Jadi jika seorang guru ingin menaikkan pangkatnya, maka ia harus menulis sebuah karya tulis ilmiah. Dengan angka kredit yang berbeda-beda, diantaranya: 1. Untuk makalah yang berisi ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri di bidang pendidikan. a. Dalam bentuk buku yang dipublikasikan (angka kreditnya b. Dimuat dalam majalah ilmiah (angka kreditnya 4) c. Tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk buku (angka kreditnya 7) d. Dalam bentuk makalah tidak dipublikasikan , tetapi didokumentasikan perpustakaan sekolah (angka kreditnya 3,5) e. Karya tulis ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey dan atau evaluasi di bidang pendidikan: 1) Dalam bentuk buku dan dipublikasikan (angka kreditnya 12,5) 2) Dalam majalah ilmiah yang dipublikasikan (angka kreditnya 6) 3) Tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk buku (angka kreditnya 4) Tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk makalah (angka kreditnya 4) 1. Buku pelajaran atau modul a. Bertaraf nasional (angka kreditnya 5) b. Bertaraf provinsi (angka kreditnya 3) c. Diktat pelajaran (angka kreditnya 1) d. Karya terjemahan buku pelajaran atau karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan (angka kreditnya 2,5) Angka kredit diatas diperuntukan bagi perseorangan. Bila kelompok, maka penulis utama mendapat 60% dan penulis pembantu mendapat 40% dan dibagi rata yang jumlahnya tidak lebih dari 5 orang Kiat-kiat jadi penulis 1. Mempunyai cita-cita untuk menjadi penulis. 2. Banyak membaca. 3. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. 4. Sering berlatih menulis. 5. Mencoba mengirimkan tulisan ke media cetak. Membuat karya tulis ilmiah: Kriteria pemilihan permasalahan: 1. Untuk memulai menulis harus diawali dengan mengangkat permasalahan yang ada di lingkungan sekitar, mulai dari permasalahan yang sederhana sampai ke permasalahan yang paling kompleks. 2. Ruang lingkup permasalahan haru dari yang kecil sampai lingkup yang besar, serta dari lingkup terbatas sampai lingkup terluas. 3. Permasalahan yang diangkat harus merupakan masalah yang aktual, penting dan perlu. Setelah menetapkan kriteria permasalahan yang akan diangkat, langkah selanjutnya adalah: 1. Membuat daftar permasalahan yang timbul dalam benak pemikiran sendiri. 2. Dari daftar permasalahan tersebut, buatlah skala prioritas dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan: 1) Apakah masalah ini berguna atau cukup penting untuk saya persoalkan? 2) Apakah masalah ini akan menghasilkan sesuatu yang baru? 3) Apakah masalah cukup menarik perhatian? 4) Apakah masalah tersebut cukup terbatas, artinya tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit? 5) Apakah masalah yang dipilih didukung data dan keterangan-keterangan yang berhubungan dengan pokok persoalan. 6) Apakah masalah ini dapat diselesaikan dengan fasilitas dan kemampuan yang dimiliki? Untuk membuat konsep yang akan dijadikan acuan, maka harus dibuat garis besar penulisan (outline), karena outline akan menjadi pedoman penulisan yang nantinya akan menghasilkan karya yang lebih baik dan sistematis. Konseptualisasi dan pengembangan gagasan: ³ Pengelompokkan masalah kehidupan sehari-hari, diantaranya: 1. Pendidikan 5. Budaya 2. Ekonomi 6. Kesehatan 3. Politik 7. Keamanan 4. Sosial 8. Agama dan sebagainya ³ Masalah pendidikan dapat dijabarkan menjadi: 1. Kurikulum 2. Pembelajaran 3. Evaluasi 4. Bimbingan Karir 5. Administrasi Pendidikan 6. Tujuan Pembelajaran 7. Perencanaan Pembelajaran 8. Guru dan Siswa, dan sebagainya Untuk mengembangkan konsep dan gagasan yang akan dituangkan kedalam outline, kita dapat melakukannya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan: 1. Mengapa masalah tersebut bisa terjadi? 2. Apakah ada faktor penyebab yang mempengaruhinya? 3. Kapan dan dimana masalah itu terjadi? 4. Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut? 5. Siapa yang bisa melakukannya? 6. Apa akibatnya bila masalah tersebut dibiarkan? Dan seterusnya. Konseptualisasi dan pengembangan gagasan dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1. Cari, temukan dan pilih salah satu masalah yang menjadi prioritas pertama. 2. Menentukan judul atau tema permasalahan yang dipilih. 3. Membuat kerangka garis besar karangan atau outline penulisan. 4. Menguraikan atau menjelaskan baik secara teoritik maupun secara empirik. Bagian-bagian outline penulisan karangan ilmiah, terdiri dari: 1. Judul 2. Kata Pengantar 3. Daftar Isi 4. Daftar Tabel 5. Daftar Gambar 6. Bab Pendahuluan 7. Bab Penjelas/Uraian/Pembahasan 8. Bab Kesimpulan dan Rekomendasi 9. Daftar Pustaka Mengembangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan Keuntungan berkomunikasi melalui tulisan, yaitu: 1. Susunan tatabahasa dan struktur kalimat dapat disempurnakan. 2. Hasil karya tulis dapat diteliti ulang untuk lebih disempurnakan. 3. Pembahasan dan sistematika berfikir, alur berfikir dapat dikaji ulang sehingga lebih sempurna dan sistematis. 4. Memiliki nilai dokumenter yang cukup tinggi, karena dapat dibaca ulang. 5. Dapat menyebarluaskan informasi dan mudah diperoleh semua diperoleh semua orang. Kelemahan komunikasi dalam bentuk tulisan, yaitu: 1. Tidak semua orang mampu memahami isi pemikiran, karena hal ini memerlukan wawasan pengetahuan yang luas untuk mencernanya. 2. Jarak komunikasi dan psikologis antara penulis denganpembaca masih terlalu jauh atau lebar, karena penulis dan pembaca tidak berkomunikasi secara langsung. Pola penulisan karya tulis ilmiah : 1. Pola pemecahan topik adalah topik bahasan yang masih dalam lingkup suatu tema menjadi bagian-bagian yang lebih sempit untuk dianalisis. 2. Pola masalah dan pemecahannya, adalah pola yang telah terlebih dahulu mengemukakan masalah dalam lingkup pokok bahasan untuk kemudian dianalisis pemecahannya. 3. Pola kronologi, menggarap topik menurut urutan peristiwa yang terjadi. 4. Pola perbandingan, pola yang mengemukakan dua aspek atau lebih dari satu topik dengan menunjukan perbedaan dan persamaan dari aspek tersebut. Gaya penuturan karya tulis ilmiah: 1. Deskripsi atau gambaran tertulis dimana penulis berusaha menggambarkan wujud benda atau gejala melalui kata-kata. 2. Narasi atau kisah yaitu model penuturan yang menyajikan rangkaian cerita atau suatu kejadian dalam waktu tertentu. 3. Ekspose atau penjabaran, yaitu penuturan yang menjelaskan dan menafsirkan fakta, gejala atau suatu kejadian. 4. Argumentasi atau penyajian alasan, yaitu jenis penuturan yang mengemukakan fakta yang mendukung pandangan seseorang atau penulis. Karya tulis ilmiah dalam arangka mendapatkan gela terdiri dari : 1. Skripsi Skripsi adalah karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1). Skripsi merupakan bukti kemampuan akademik mahasiswa dalam penelitian yang berhubungan dengan masalah yang dibahas. Karakteristik Skripsi: 1) Untuk bidang pendidikan, skripsi terarah pada eksplorasi atau pemecahan masalah pendidikan. 2) Untuk bidang non-kependidikan, skripsi terarah pada permasalahan bidang keilmuan yang sesuai dengan program studi mahasiswa. 3) Ditulis atas dasar hasil pengamatan dan observasi lapangan atau penelaahan pustaka. 4) Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar Tesis: Tesis adalah karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan Program Magister (S2). Tesis merupakan bukti kemampuan yang bersangkutan dalam penelitian dan pengembangan ilmu pada salah satu bidang keilmuan dalam Ilmu Pendidikan Karakteristik Tesis: 1. Berfokus pada kajian mengenai salah satu isu sentral yang tercakup dalam salah satu disiplin dalam ilmu pendidikan sesuai dengan program studi yang ditempuh oleh mahasiswa yang bersangkutan. 2. Merupakan pengujian empirik terhadap posisi teoritik tertentu. 3. Menggunakan data primer sebagai data utama yang dapat ditunjang oleh data sekunder. 4. Ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kecuali untuk program studi bahasa asing. 1. Disertasi Disertasi adalah karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan Program S3 ilmu pendidikan. Disertasi merupakan bukti kemampuan yang bersangkutan dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan penemuan baru dalam salah satu disiplin Ilmu Pendidikan. Karakteristik Disertasi: 1. Berfokus pada kajian mengenai salah satu disiplin Ilmu Pendidikan sesuai dengan bidang yang dipelajari. 2. Kajian berfokus pada penemuan baru dalam disiplin ilmu yang dikaji secara mendalam. 3. Mengunakan data primer sebagai data utama, ditunjang oleh data sekunder apabila diperlukan. 4. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, kecuali untuk program studi bahasa asing.


Pengertian karya tulis ilmiah
Karya tulis ilmiah adalah :
karya tulis yang memiliki karakteristik keilmuan dan memenuhi syarat keilmuan, yaitu:
  1. Isi kajian berada pada lingkup pengetahuan ilmiah.
  2. Menggunakan metode berpikir ilmiah.
  3. Sosok tulisan keilmuan
Jenis-jenis kaarya tulis ilmiah
  1. Buku Pelajaran
Dikatakan sebagai karya tulis ilmiah di bidang pendidikan karena memiliki
kebenaran ilmiah dan disusun dengan landasan teori tertentu.
  1. Makalah
Makalah adalah sebuah karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu
yang mencakup dalam ruang lingkup permasalahan.
Ciri-ciri makalah
  1. Merupakan hasil kajian literatur atau hasil laporan pelaksanaan kegiatan lapangan mengenai suatu permasalahan.
  2. Mendemonstrasikan pemahaman teoritik dan kemampuan menerapkan prosedur, prinsip dan teori yang berhubungan dengan permasalahan
  3. Menunjukkan kemampuan pemahaman isi dan berbagai sumber yang digunakan.
  4. Mendemonstrasikan kemampuan menyusun berbagai sumber informasi dalam satu kesatuan sintesis yang utuh.
Makalah yang sering digunakan dalam karya tulis ilmiah
  1. Common paper, makalah yang dibuat secara deskriptif dan dengan mengemukakan berbagai aliran dan pendapat serta diperlukan argumentasi untuk mempertahankan suatu aliran atau pendapat tersebut.
  2. Position paper, makalah yang dibuat untuk menunjukkan penguasaan pengetahuan serta di pihak mana penulis berdiri dan diperlukan sintesis juga evaluasi dalam penyusunannya.
  1. Modul
Adalah materi pelajaran yang disusun sedemikian rupa sehingga
pembacanya diharapkan dapat menyerap sendiri materi tersebut.
  1. Diktat Pelajaran
Adalah catatan tertulis suatu bidang studi yang disiapkan oleh guru untuk mempermudah pengayaan materi pelajaran atau bidang studi yang dibahas dalam proses pembelajaran.
  1. Terjemahan
Adalah karya tulis hasil penerjemahan dari buku atau karya tulis bahasa
asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya.
Syarat seorang penerjemah, yaitu:
  1. Menguasai materi yang akan diterjemahkan.
  2. Menguasai bahasa asing.
  3. Menguasai bahasa Indonesia yang baik.
  4. Menguasai teknik menterjemahkan.
  5. Memahami latar belakang dari budaya bahasa asing tersebut.
Laporan Hasil Penelitian
Merupakan sajian tertulis dari hasil kegiatan penelitian yang telah dilakukan atau bisa dikatakan sebagai pertanggungjawaban dari kegiatan penelitian.
Jika disusun dalam kaitannya dengan persyaratan akademik, maka bentuk laporannya dapat berupa skripsi, tesis atau disertasi.
Artikel Ilmiah
Artikel ilmiah berbeda dengan laporan hasil penelitian yang baku. Perbedaannya terdapat pada:
  1. Bahan yang ditulis dalam artikel ilmiah lebih bersifat singkat padat dan enak dibaca.
  2. Sistematika diawali dengan kajian pustaka yang merupakan pendukung atau pembahasan rasional pentingnya masalah yang diteliti.
  3. Prosedur penulisan artikel dapat ditulis sebelum laporan penelitian diselesaikan
Macam-macam artikrl ilmiah
  1. Artikel Ilmiah Hasil Penelitian
adalah tulisan ilmiah yang didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan. Artikel ini disusun sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan semua aspek laporan hasil penelitian, tetapi dalam format yang lebih ringkas.
  1. Artikel Ilmiah Non Penelitian
adalah artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan, hasil penelitian
terdahulu, disamping teori yang dapat digali dari buku-buku teks.
Prosedur teknin penulisan artikel ilmiah
  1. Pengembangan gagasan.
  2. Perencanaan penulisan naskah.
  3. Pengembangan paragraf.
  4. Penulisan draf.
  5. Finalisasi.
Komponen-komponen artikel iliah
  1. Judul
Judul hasil pemikiran hendaknya mencerminkan masalah yang dibahas. Pemilihan kata-kata yang mengandung unsur-unsur utama masalah dan judul harus memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi pembaca.
  1. Nama Penulis
Nama penulis artikel hendaknya tanpa disertai gelar akademik atau profesional guna menghindari bias seniorita dan wibawa serta inferioritas penulis.
  1. Abstrak dan kata kunci
Berisi ringkasan dari isi artikel yang dituangkan secara padat, bukan pengantar atau pengantar penulis.
  1. Pendahuluan
Menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatian pembaca dan hendaknya berisi paparan tentang permasalahan penelitian, wawasan dan rencana penulis dalam rangka pemecahan masalahnya.
  1. Bagian inti
Lazimnya bagian inti berisi kupasan, analisis argumentasi, komparasi, keputusan dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan.
  1. Metode
Menguraikan bagaimana penelitian dilakukan seperti rancangan atau desain penelitian, sasaran atau target penelitian, teknik pengumpulan data, pengembangan instrumen dan teknik analisis data.
  1. Hasil penelitian
Hasil penelitian hendaknya disajikan secara padat, dan komunikatif.
Perhitungan statistik tidak perlu disajikan dalam artikel.
  1. Pembahasan
Dalam pembahasan, penulis menyajikan hasil interpretasi temuannya dan mengaitkannya dengan struktur pengetahuan yang telah mapan, dan hasil penelitian terdahulu. Sehingga diharapkan lahirnya teori-teori baru atau modifikasi teori yang telah ada.
  1. Penutup, kesimpulan dan saran
Merupakan bagian akhir yang pada dasarnya mengakhiri diskusi dengan
sesuatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian.
  1. Daftar rujukan
Semua rujukan yang terdapat dalam tulisan hendaknya dimasukkan ke
dalam daftar rujukan.
Artikel ilmiah pada sebuah jurnal
  1. Harus memahami aturan jurnal (gaya selingkung) yang akan dijadikan tujuan penulisan. Karena tiap-tiap jurnal memiliki gaya selingkung yang berbeda.
  2. Harus memahami prosedur pemuatan artikel ilmiah oleh penerbit jurnal.
  3. Prosedur pemuatan artikel itu diantaranya:
1) Penulis menyerahkan naskahnya kepada pengelola jurnal atau Ketua Dewan Editor.
2) Ketua Dewan Editor meminta bantuan beberapa penyunting ahli untuk menilai naskah tersebut dan menetapkan layak tidaknya naskah tersebut dimuat.
3) Penyunting ahli berperan sebagai wasit, yang menentukan layak atau tidaknya naskah tersebut dimuat di jurnal. Kemungkinan hasil evaluasi: (1) layak dimuat tanpa revisi, (2) dapat dimuat dengan revisi, (3) tidak layak dimuat.
4) Jika hasilnya perlu direvisi, maka penulis diminta merevisi untuk nanti dinilai kembali dan seterusnya sampai naskah tersebut layak untuk dimuat.
Fungsi karya ilmiah bagi karier guru
Fungsi karya tulis ilmiah bagi karir guru adalah mereka yang berkehendak memperdalam pengetahuan dan kemampuan dalam mengembangkan profesi dan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan.
Selain itu karya tulis ilmiah dapat dijadikan sebagai sarana untuk kenaikan pangkat atau jabatan yang lebih tinggi.
Kaitan pengembangan profesi guru dengan karya tulis ilmiah
Penulisan karya tulis ilmiah dapat dijadikan sarana untuk pengembangan profesi guru. Jadi jika seorang guru ingin menaikkan pangkatnya, maka ia harus menulis sebuah karya tulis ilmiah.